Penyusunan Kisi-Kisi Instrumen Kegiatan Pembelajaran Kimia Berbasis Disruptive Innovations dengan Tiga Domain Melalui 3 Pendekatan
Pelaksanaan proses pembelajaran dan melakukan penilaian proses serta hasil belajar adalah sebuah aktivitas yang tidak dapat dipisahkan, yang bertujuan agar dapat memantau kualitas pembelajaran dan memberikan feedback untuk perbaikan, sehingga perancangan strategi penilaian oleh pendidik sudah harus dibuatsaat penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang mengacu pada silabus. Sesuai dengan Permendikbud No 23 mengenai Standar Penilaian Pendidikan, ditetapkan bahwa penilaian aspek sikap dilakukan melalui observasi/pengamatan dan teknik penilaian lain yang relevan; penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan sesuai dengan kompetensi yang dinilai; sedangkan penilaian keterampilan dilakukan melalui praktik, produk, proyek, portofolio, dan/atau teknik lain sesuai dengan kompetensi yang dinilai (Permendikbud No 23, 2016).
Suatu penilaian dianggap autentik ketika guru langsung menguji peserta didik dengan tugas intelektual yang terpercaya (Wiggins, 1990). Hal ini sejalan dengan pendapat yang disampaikan oleh Nitko & Brookhart (2011) bahwa arti kata autentik dalam penilaian autentik adalah menyajikan tugas secara langsung kepada peserta didik yang berarti sesuai dengan kehidupan nyata sehingga pendidikan bagi mereka bermakna.
Ada tiga alternatif utama siasat dalam proses pendidikan di sekolah. Pertama, Heutagogy. Heutagogy ini merupakan strategi mendidik peserta didik yang mendorong mereka untuk memiliki keterampilan mengarahkan diri. Pengembangan kemampuan self-directing ini begitu penting di zaman multitasking ini. Tanpa kemampuan mengarahkan diri, peserta didik akan sangat mudah terganggu, terpengaruh, dan teralihkan oleh berseliwerannya fitur-fitur digital.
Strategi pendidikan kedua, yakni Peeragogy. Peeragogy ini adalah strategi pendidikan yang membiasakan peserta didik untuk terlatih fokus pada belajar bekerjasama dan mencipta bersama-sama. Tak dapat ditolak, gadget yang kini digandrungi para peserta didik kian menjauhkan mereka dari lingkungan sosial. Peserta didik menjadi sangat individual dan tak terbiasa belajar dengan teman sebaya. Padahal, keterampilan abad 21 mensyaratkan kompetensi peserta didik untuk mampu berkolaborasi dengan individu lainnya. Kompetensi berkolaborasi ini perlu ditanamkan melalui strategi peeragogy.
Strategi yang ketiga, ialah Cybergogy. Cybergogy ini merupakan strategi pendidikan yang mendorong para pembelajar untuk terlibat dalam lingkungan belajar dalam jaringan. Lingkungan Online, serba terkoneksi, kini telah menjadi keseharian dari kehidupan para peserta didik. Media komunikasi dan interaksi, suka tidak suka kini telah beralih dari bentuk fisik ke bentuk maya salah satunya kondisi pembelajaran daring yang saat ini harus dijalankan mengingat kondisi negeri yang masih melawan wabah Covid-19.
Pendidikan
harus mulai melakukan inovasi-inovasi dengan pemanfaatan Teknologi,
mulai dari segi layanan, administrasi, akademik, kurikulum sampai pada
pengembangan minat dan bakat peserta didik. Pemanfaatan
teknologi dan inovasi dalam dunia pendidikan akan mampu memaksimalkan peran
pihak sekolah steakholder dan orangtua dalam kaitannya dengan peningkatan layanan
pendidikan. Sehingga merubah cara lama dimana sistem
pendidikan yang konvensional ditinggal menuju sistem
pendidikan yang inovatif dan mampu menjaring partispasi aktif orangtua dan
masyarakat dalam pengawasan dan peran sertanya dalam pendidikan.
Konsep
disruptive innovation tidak selalu harus menciptakan produk baru melainkan
membuat konsumen mendapatkan layanan yang lebih murah, lebih sederhana, lebih
kecil ukurannya, dan seringkali lebih nyaman untuk digunakan. Berbagai inovasi
di atas menjadikan peserta didik dan komsumen pendidikan akan memudahkan mereka
untuk mendapatkan layanan dari pihak sekolah terutama pada saat jarak jauh. Sehingga dapat disimpulkan bahwa disruptive tidak selalu diartikan sebagai
sebuah ancaman yang selalu merugikan. Inovasi diskruptif (diskrutive innovation)
memberikan gambaran bahwa perubahan yang terjadi merupakan sebuah dampak dari
berbagai inovasi yang ada yang terjadi di berbagai aspek kehidupan manusia yang
diiringi dengan pemanfaatan teknologi yang bertujuan untuk menghadirkan sebuah
pembaruan dalam bidang layanan, informasi, hiburan dan ekonomi yang lebih
efektif, efisien serta simpel sesuai dengan apa yang dibutuhkan saat ini.
Adapun kisi-kisi instrumen kegiatan
pembelajaran kimia berbasis disruptive innovations dalam tiga domain dapat
dilihat dengan mengklik link di bawah ini.
Dari instumen yang sudah saya buat, saya
ingin meminta tanggapan, sara, serta masukan teman-teman pembaca tulisan ini, bagaimanakah
pendapat Anda mengenai kisi-kisi instrumen yang saya lampirkan?, apakah
sudah bisa dikatakan sebagai kisi-kisi instrumen berbasis disruptive innovation
dalam tiga domain melalui pendekatan Heutagogy, Peeragogy, dan Cybergogy? apa
sajakah yang harus diperbaiki dan apa sajakah yang masih bisa dikembangkan?
Selain itu, mampukah guru saat ini mengecek ketercapaian kemampuan peserta
didik dalam proses pembelajaran dengan menggunakan kisi-kisi instrumen di atas selama melaksanakan pembelajaran daring?
Mohon masukan dari teman-teman semua. Terima kasih.
Saya akan mencoba menanggapi permasalahan saudari rahmi, menurut saya kisi-kisi yang anda buat sudah baik, namun masih dapat dikembangkan lagi dengan memperhatikan indikator dari masing-masing pendekatan, anda masih dapat menambahkan indikator pada masing-masing pendekatan dengan menyesuaikan ketiga ranah yaitu afektif, kognitif dan psikomotor. Untuk mengecek ketercapaian kemampuan peserta didik menggunakan kisi-kisi instrumen yang telah dibuat memang cukup rumit dikarenakan indikator yang ada dalam ketiga pendekatan tersebut juga cukup banyak, namun kita dapat memilah indikator mana yang akan kita ambil yang sekiranya cocok untuk ranah afektif, kognitif dan psikomotor.
BalasHapusTerima kasih untuk saran dan komentarnya. Mungkin bisa intan tambahkan indikator seperti apa yang dapat ditambahkan untuk masing-masing pendekatan dengan menyesuaikan ketiga ranah yaitu afektif, kognitif dan psikomotor? seperti saran intan diatas agar saya dapat lebih memahaminya, Terima kasih
HapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan diatas, yang mana kisi-kisi yang dibuat sudah baik dengan membagikan kedalam 3 ranah masing-masing pendekatan. Namun, ada beberapa hal yang bisa dikembangkan yaitu dengan mencari deskripsi kegiatan yang dilakukan oleh siswa lebih spesifik, agar benar-benar tergambarkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa melalui evaluasi. Menurut saya apabila instrumen yang dikembangkan tersebut dibuat lebih spesifik lagi dalam kegiatan yang dilakukan dapat mempermudah guru dalam mengamati siswa untuk melakukan penilaian dengan menggunakan instrumen penilaian tersebut.
BalasHapusTerima kasih saran dan komentarnya. Kedepannya akan saya perbaiki dalam membuat deskripsi kegiatan yang dilakukan oleh siswa agar lebih spesifik
Hapuskisi-kisi yang dibuat sudah cukup baik, tapi akan lebih baik lagi apabila dibuat lebih jelas mengarah pada apa yang terjadi tidak hanya secara umum
BalasHapusTerima kasih atas saran dan komentarnya. Untuk saran nurazlina, mungkin dapat diperjelas lagi maksud anda terkait dibuat lebih jelas mengarah pada apa yang terjadi dalam hal apa saja? Terima kasih
Hapusmenurut saya kisi-kisi yang saudari rahmi buat sudah baik, namun untuk indikator nya terlihat terlalu umum dan kehilangan atau tidak terlihat substansi kimia nya
BalasHapusMenurut saya kisi-kisi instrumen yang anda buat sudah cukup baik, namun alangkah baiknya
BalasHapusdomain afektif, kognitif dan psikomotor disesuaikan lagi dengan indikator dari pendekatan cybergogy, peeragogy, dan heutagogy sehingga kegiatan pembelajaran dan penilaian akan berjalan secara optimal.
Untuk permasalahan kedua, menurut saya instrumen diatas bisa digunakan guru untuk mengukur ketercapaian kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran kimia secara daring, namun tentu saja diperlukan perbaikan di beberapa bagian deskripsi kegiatan untuk menyesuaikan pembelajaran yang dilakukan secara virtual.
BalasHapus